Jumat, 22 April 2016

MANFAAT RASA LAPAR

MANFAAT RASA LAPAR


πŸ“šπŸŒΉ Permata Salaf  πŸŒΉπŸ“š
πŸƒ πŸŒ·MANFAAT RASA LAPAR πŸŒ·πŸƒ
🍁🌾 Ibnu Abi ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ rahimahullah bahwa dia berkata, “Siapa yang sedikit makannya dia akan bisa memahami, membuat orang lain paham, bersih, dan lembut. Sungguh, banyak makan akan memberati seseorang dari hal-hal yang dia inginkan.”
πŸ’¬ Diriwayatkan dari Utsman bin Zaidah rahimahullah, dia berkata bahwa Sufyan ats- Tsauri rahimahullah mengirim surat kepadanya (di antara isinya), “Apabila engkau ingin tubuhmu sehat dan tidurmu sedikit, kurangilah makan.”
πŸ’¬ Diriwayatkan dari Ibrahim bin Adham rahimahullah, “Siapa yang menjaga perutnya, dia bisa menjaga agamanya. 
🍁🌾 Siapa yang bisa menguasai rasa laparnya, dia akan menguasai akhlak yang terpuji. Sungguh, kemaksiatan akan jauh dari orang yang lapar, dekat dengan orang yang kenyang. Rasa kenyang akan mematikan hati. Akan muncul pula darinya rasa senang, sombong, dan tawa.”
πŸ’¬ Diriwayatkan dari Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah, “Jika jiwa merasakan lapar dan dahaga, kalbu akan bersih dan lembut. Jika jiwa merasakan kenyang dan puas minum, kalbu menjadi buta.”
πŸ’¬ Diriwayatkan pula dari asy-Syafi’i rahimahullah, “… Rasa kenyang akan memberati badan, menghilangkan kewaspadaan, mendatangkan rasa kantuk, dan melemahkan
pemiliknya dari beribadah.” (Jami’ al-Ulum wal Hikam, hlm. 576—577)
Categorised in: Asy Syariah Edisi 092, Permata Salaf
πŸ“š Referensi :
πŸ‘‰ http://asysyariah.com/permata-salaf-manfaat-rasa-lapar/
πŸƒπŸŒΎπŸŒΉπŸƒ
πŸƒ Ahlus Sunnah Tapanuli
Share:

KISAH MENAKJUBKAN NAN MENGHARUKAN

KISAH MENAKJUBKAN NAN MENGHARUKAN


Kisah ini terjadi pada salah satu ulama ahli hadits, beliau adalah Al Qadhi Muhamad bin Abdul Baqi Al Anshari Al Bazzar, beliau dikenal dengan julukan Qadhi Al Marastan, beliau meninggal pada tahun 535 Hijriyah.
Kisah ini benar-benar menakjubkanku dan juga mengharukan. Padanya terdapat pelajaran yang banyak yang bisa kita petik dari kisah tersebut.
Nah, penasaran kan? Ayo kita simak bersama-sama kisah ini!
“BUAH DARI MENUNAIKAN AMANAH”
Dikisahkan, pada suatu hari beliau sedang berada di Mekkah,  bertepatan dengan musim haji.
Pada saat itu, beliau kehabisan bekal, tidak memiliki harta sedikitpun dari harta dunia. Suatu hari, beliau ditimpa oleh rasa lapar yang luar biasa. Beliau akhirnya keluar untuk mencari sepotong roti atau sesuatu yang dapat mengganjal perutnya dari rasa lapar.
Tiba-tiba beliau menemukan sebuah bungkusan dari kain sutra berwarna merah yang terjatuh di tanah. Beliau mengambil bungkusan tersebut dan membukanya. Beliau mendapatkan didalamnya sebuah kalung yang berharga terbuat dari permata, diperkirakan kalung tersebut senilai 50 ribu dinar. Beliau pun segera mengikatnya kembali dan menyimpannya.
Tatkala beliau sedang menyusuri perjalanannya, tiba-tiba ada seorang laki-laki berteriak-teriak kehilangan kalung. Dia berteriak-teriak kepada manusia bahwa dia telah kehilangan bungkusan yang terbuat dari kain sutra. Dia menjanjikan bahwa barangsiapa yang menemukannya maka akan diberi hadiah 50 dinar.
Al Qadhi pun bertanya kepada orang tersebut tentang isi bungkusan tersebut. Dia pun menjawab bahwa didalamnya terdapat sebuah kalung permata yang mahal. Kemudian beliau bertanya tentang ciri-ciri bungkusannya kepada orang tersebut. Ketika orang tersebut telah mengkabarkan ciri-ciri bungkusan kalung tersebut dengan benar, maka Al Qadhi bersegera mengembalikan bungkusan yang ia temukan kepada orang tersebut.
Orang tersebut kemudian mengeluarkan 50 dinar dan diserahkan kepada Al Qadhi, namun beliau enggan menerimanya, sembari berkata: “Tidak sepantasnya bagiku mengambil upah dari barang temuan yang aku temukan dan aku kembalikan kepada pemiliknya. Sesungguhnya aku mengembalikan kalung ini kepadamu bukan karena aku berkeinginan besar untuk mendapatkan hadiah, tetapi aku berkeinginan besar untuk mendapatkan keridhoan Rabb-ku.
Sungguh luar biasa!
Beliau enggan menerima hadiah tersebut,  padahal beliau sedang dalam keadaan ditimpa kelaparan dan belum mendapatkan sepotong roti yang kering yang bisa mengganjal perutnya dari kelaparan. Pemilik bungkusan tersebut akhirnya mendoakan kebaikan untuk beliau, lalu pergi meninggalkannya.
Al Qadhi Al Muhaddits menetap beberapa hari di Mekkah, kemudian beliau putuskan untuk pergi naik kapal, barangkali bisa menemukan sesuatu yang bisa dijadikan modal.
Tatkala beliau berada ditengah laut, tiba-tiba datanglah badai, mengombang-ambingkan kapal beliau, sampai akhirnya badai tersebut menghantam dan menghancurkan kapal serta menenggelamkannya. Al Qadhi bertaut pada sebuah papan pecahan perahu. Beliau terus bertautan dengannya, sedangkan ombak terus mengombang-ambingkan beliau selama beberapa hari ditengah laut, sampai akhirnya menghempaskan beliau ke daratan.
Sungguh-sungguh beliau telah kehabisan tenaga dan tertimpa keletihan yang sangat. Beliau berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya dan menyeret tubuhnya hingga sampai di sebuah masjid. Setelah tiba didalam masjid, beliau tersungkur jatuh karena keletihan dan kelaparan. Beliau tidak tahu tempat apa yang dia singgahi ini, dan tidak pula mengenal seorang pun dari penduduk tempat tersebut.
Datanglah seorang penduduk dan masuk kedalam masjid, dan tatkala dia melihat Al Qadhi, lalu dia mendekatinya dan bertanya tentang keadaan beliau. Beliau pun menceritakan apa yang telah menimpa beliau. Setelah beliau menceritakan kisahnya, orang tersebut menghidangkan makanan dan minuman serta pakaian untuk menghangatkan badan.
Orang tersebut mengkabarkan bahwa penduduk negeri ini sedang mencari orang yang bisa dipekerjakan sebagai imam shalat di dalam masjid ini. Dan ketika Al Qadhi menyampaikan bahwa dia telah hafal Al Quran, maka bersegera penduduk negeri tersebut mempekerjakan beliau untuk menjadi imam masjid. Dan ketika mereka tahu bahwa beliau pintar menulis, maka mereka bersegera mempekerjakan beliau untuk juga menjadi guru untuk mengajari anak-anak mereka.
Beliau berkata: “Akhirnya aku pun mendapatkan uang dari pekerjaan tersebut, kini keadaanku jauh lebih baik”.
Suatu hari, penduduk negeri datang menemuiku, mereka berkata: “Sesungguhnya kami memiliki anak perempuan yang yatim, kami ingin menikahkan dia denganmu.” Mereka terus mendesakku, dan akhirnya aku pun setuju.
Tatkala mereka membawaku masuk untuk menemui anak perempuan tersebut, aku melihat sebuah kalung mutiara yang indah melingkar di lehernnya. Aku tidak dapat mengedipkan mataku memandangi kalung tersebut, aku benar-benar dalam keadaan bingung dan heran. Kalung tersebut adalah kalung yang aku temukan di Mekkah. Tatkala aku masih terus memandang kalung tersebut, tiba-tiba saja anak perempuan tersebut lari keluar sambil menangis terisak-isak. Ia berkata kepada penduduk negeri,  “Sesungguhnya dia (Al Qadhi) tidak ingin melihat wajahku, dia hanya mengangkat pandangannya ke kalung yang tergelantung didadaku.”
Keesokan harinya, ketika aku selesai mengimami mereka shalat Shubuh, mereka menyampaikan kepadaku tentang keluhan anak perempuan itu. Aku pun menceritakan kepada mereka,  bahwa dulu aku menemukan kalung itu tergeletak di tanah di Al Masjidil Haram terbungkus oleh kain sutra berwarna merah, kemudian aku kembalikan kepada pemiliknya.
Tiba-tiba saja mereka semua bertakbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!”,
Masjid bergema, sampai-sampai masjid terasa bergetar disebabkan oleh takbir-takbir mereka.
Kemudian mereka menceritakan kepadaku, bahwa pemilik kalung tersebut adalah ayah dari anak perempuan yang yatim tersebut, dia tidak memiliki anak selain dia. Dahulu ayahnya menjadi imam shalat di masjid ini. Dia sudah meninggal dunia pada tahun yang lalu. Semenjak dia pulang dari ibadah haji, dia tidak pernah berhenti berdoa dengan doa ini, dan kami pun men-amin-kan dibelakangnya: “Wahai Rabb-ku, aku tidak pernah mendapatkan seorang pun semisal orang yang menemukan kalungku, Wahai Rabb-ku, pertemukanlah aku dengannya, sehingga aku bisa menikahkan dia dengan anak perempuanku satu-satunya!”
“Sungguh Allah telah mengkabulkan doanya, Allah telah mendatangkanmu kesini dan menikahkanmu dengan anak perempuannya, meskipun setelah ayahnya meninggal.”
INILAH BALASAN DARI PENUNAIAN AMANAH DAN  KEMURNIAN DIRI.
Sumber:
“Mir’aatuz Zamaan Fi Tarikhul A’yan”. Diringkas oleh Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah.
Kemudian Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
“Sungguh kisah ini terkandung didalamnya faedah bahwa tidak boleh menerima hadiah dari penunaian sebuah amanah, karena wajib baginya mengembalikan suatu amanah tanpa upah balasan, hal ini jika dia mengambil barang temuan tersebut tidak diniatkan untuk mendapatkan upah yang telah dipersyaratkan. Telah ternukil dari Imam Ahmad -semoga Allah meridhoinya- bahwa termasuk yang semisal ini adalah wadhi’ah (barang titipan). Tidak boleh bagi orang yang mengembalikan barang titipan kepada pemiliknya mengambil hadiahnya, kecuali jika memang dia niatkan (dari amalannya) untuk mendapatkan upah.”
Berkata Ibnu Rajab rahimahullah: “Demikian pula dikisahkan kisah ini oleh Yusuf bin Khalil Al Hafizh dalam kitabnya ‘Al Mu’jam”.
Semoga kisah ini banyak memberikan faedah yang bermanfaat untuk kita semua.
Barakallahu fikum.
Lihat:
Dzail Thabaqat Al Hanabilah: 1/434.
Siyar A’lam An Nubala: 20/23.
Syadzarat Adz Dzahab 4/108.
✒ Alih bahasa:
Abu Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi
Share:

Minggu, 21 Februari 2016

"BARU" LINK Audio Rekaman Dauroh Jombang bersama Ustadz Afifuddin Hafidzohulloh "Para Penyusup Dakwah Salafiyyah"








Dengan mengharap ridho ALLOH ta’ala semata,
Hadir dan ikutilah Kajian Islam Ilmiah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Dengan Tema :
“ Para Penyusup Dakwah Salafiyyah ”
Pemateri : Al-Ustadz Afifuddin As Sidawi Hafidzahulloh

In sya ALLOH diselenggarakan
 pada:
- hari : Ahad ,04 Jumadal Akhiroh 1437 H / 13 Maret 2015 M.
- pukul : 09.00 WIB - Selesai.
- tempat : Mahad Ar-Risalah Jombang

Disiarkan secara langsung melalui Radio Ar-Risalah ( www.arrisalah.or.id )

Contact Person: Abu Abdirrohman Afrul (0856 4308 6942)



Share:

Selasa, 16 Februari 2016


SIAPAKAH ABUL HASAN AL-ASY’ARI?
___Ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak
Penjelasan Singkat tentang Abul Hasan al-Asy’ari
Abul Hasan al-Asy’ari adalah sosok yang sangat terkenal di negeri kita ini. Mengapa demikian? Karena banyak orang yang menisbahkan pemahaman mereka kepada beliau rahimahullah. Tulisan ini berusaha mengenalkan beliau dan akidah yang diyakininya. Setelah itu, kita akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan: Benarkah beliau seorang ulama Ahlus Sunnah? Dan benarkah pengakuan sebagian orang yang mengaku pengikut beliau?
Tiga Fase Kehidupan Abul Hasan al-Asy’ari
Nama beliau adalah Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Musa al-Asy’ari. Beliau lahir pada tahun 260 H/873M dan wafat pada tahun 935 M. Perlu diketahui, Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah melalui tiga marhalah (fase) dalam kehidupannya.
Fase pertama: Beliau berakidah Mu’tazilah, dididik oleh ayah tirinya, Abu Ali al-Jubba’i, dalam pendidikan Mu’tazilah. Beliau berada dalam akidah Mu’tazilah ini selama empat puluh tahun.
Fase kedua: masa peralihan. Ketika itu beliau dalam posisi antara akidah Mu’tazilah tulen yang tidak mengimani sifat-sifat Allah dan akidah Ahlus Sunnah yang murni. Di masa tersebut beliau mulai mengkritisi pemikiran-pemikiran Mu’tazilah dan sering beradu argumen dengan ayah tirinya. Namun, beliau belum kembali kepada akidah Ahlus Sunnah secara total.
Fase ketiga: Beliau kembali memeluk akidah Ahlus Sunah wal Jamaah dan mengikuti prinsip-prinsip al-Imam Ahmad bin Hanbal. Hal ini beliau tegaskan di dalam kitab-kitabnya bahwa beliau di atas akidah yang didakwahkan al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan tiga marhalah kehidupan Abul Hasan tersebut sebagai berikut. Marhalah i’tizal: Beliau memeluk pemahaman Mu’tazilah selama empat puluh tahun, kemudian rujuk dan menyatakan sesatnya Mu’tazilah.
Marhalah antara Mu’tazilah tulen dan Ahlus Sunnah yang murni, beliau mengikuti jalan Abu Muhammad Abdullah bin Said bin Kullab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Asy’ari (al-Imam Abul Hasan) dan semisalnya adalah sekelompok orang yang berada di antara salaf dan Jahmiyah. Mereka mengambil dari salaf pendapat yang benar dan mengambil dari Jahmiyah prinsip-prinsip yang mereka sangka benar padahal rusak.” Marhalah berpegang dengan mazhab Ahlus Sunnah wal Hadits, mengikuti al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, sebagaimana beliau jelaskan dalam kitabnya al-Ibanah fi Ushulid Diyanah. (Lihat al-Qawa’idul Mutsla karya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)
Di antara ucapan Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah dalam kitab tersebut yang menunjukkan beliau di atas manhaj salaf adalah pengakuan kembali kepada manhaj al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah berkata, “Pendapat yang kami yakini dan agama yang kami beragama dengannya: ‘Berpegang teguh dengan kitab Rabb kita dan sunnah Nabi kita, Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam, serta apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabiin, dan imam ahlul hadits. Kami berpegang teguh dengannya dan dengan pendapat yang diucapkan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal—mudah-mudahan Allah Subhanahuwata’ala menyinari wajahnya dan mengangkat derajatnya serta memberinya pahala yang banyak—, dan kami menjauhkan diri dari pendapat-pendapat yang menyelisihi prinsip al-Imam Ahmad bin Hanbal, karena beliau adalah imam yang memiliki keutamaan, seorang tokoh yang dengannya Allah Subhanahuwata’ala menjelaskan al-haq, menolak kebatilan, menjelaskan manhaj dan menghancurkan kebid’ahan ahlul bid’ah, penyimpangan orang-orang yang menyimpang, serta menghilangkan keraguan orang-orang yang ragu…’.” (Lihat al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah)
Sebab Taubat Abul Hasan al-Asy’ari
Asy-Syaikh Hammad al-Anshari menyebutkan sebab bertaubatnya Abul Hasan rahimahullah. Dihikayatkan dari Abul Hasan, “Sejak beberapa malam, di dadaku muncul (ganjalan) tentang masalah-masalah akidah. Aku pun bangun melaksanakan shalat dua rakaat dan meminta agar Allah Subhanahuwata’ala memberi hidayah jalan yang lurus kepadaku. Kemudian aku pun tidur. Ketika tidur aku bermimpi melihat Rasulullah. Aku keluhkan kepada beliau sebagian masalahku. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Wajib atasmu berpegang dengan sunnahku’, lalu aku terbangun.” (Lihat Abul Hasan al-Asy’ari karya asy-Syaikh Hammad al-Anshari)
Pengakuan Para Ulama tentang Rujuknya Beliau
Asy-Syaikh Hammad al-Anshari telah menukilkan penjelasan para ulama tentang rujuknya Abul Hasan ke manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Di antara yang beliau sebutkan adalah:
  1. As-Subki berkata, “Abul Hasan al-Asy’ari adalah tokoh besar Ahlus Sunnah setelah al-Imam Ahmad bin Hanbal. Akidah beliau sama dengan akidah al-Imam Ahmad dan ini adalah perkara yang tidak diragukan lagi. Abul Hasan al-Asy’ari telah menegaskan dalam tulisan-tulisannya dan sering beliau sebutkan, ‘Akidahku adalah akidah al-Imam Ahmad bin Hanbal’.”
  2. Abul Abas Syamsudin Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr bin Khalqan rahimahullah berkata, “Abul Hasan dahulunya Mu’tazilah kemudian bertaubat.”
  3. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Abul Hasan al-Asy’ari dahulunya Mu’tazilah kemudian beliau bertaubat di Bashrah, setelah itu beliau tampil membongkar borok-borok Mu’tazilah.”
  4. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Abul Hasan dahulunya berpemahaman Mu’tazilah. Ia mengambilnya dari Abu Ali al-Jubba’i. Beliau lalu membuangnya dan membantah al-Jubba’i. Beliau pun berbicara dengan sunnah, mencocoki para imam ahli hadits….” (al-Uluw) (Lihat risalah Abul Hasan al-Asy’ari karya asy-Syaikh Hammad al-Anshari)
    Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah di akhir usianya berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Hadits yaitu menetapkan (nama dan sifat-sifat) yang Allah Subhanahuwata’ala tetapkan untuk diri-Nya atau ditetapkan melalui lisan rasul-Nya, tanpa tahrif, takyif, dan tamtsil.” (al-Qawaidul Mutsla)
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa asy-Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari adalah seorang Ahlus Sunnah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama di atas dan Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah tuliskan dalam kitab-kitabnya, di antaranya di dalam kitab beliau al-Ibanah fi Ushuli Diyanah.
Adapun pengakuan orang yang mengaku-aku mengikuti beliau (kelompok Asya’riyah) adalah pengakuan yang keliru, karena pada hakikatnya mereka mengikuti pemahaman beliau sebelum rujuk kepada manhaj Ahlus Sunnah. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Orang-orang belakangan yang menisbahkan diri kepada beliau (yakni Abul Hasan al-Asy’ari) hanya mengambil marhalah kehidupan beliau yang kedua.” (Lihat al-Qawaidul Mutsla)
Sumber: Majalah asy Syariah edisi 74
Share:

Rabu, 14 Oktober 2015

BARU Link Download AUDIO ADA APA DENGAN JIN (Jaringan Islam Nusantara) - Al-Ustadz Muhammad Ihsan Hafidzahulloh



Dengan mengharap ridho ALLOH ta’ala semata,
Hadir dan ikutilah Kajian Islam Ilmiah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Dengan Tema :
“ ADA APA DENGAN JIN (Jaringan Islam Nusantara) ”
Pemateri : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan Hafidzahulloh

In sya ALLOH diselenggarakan
 pada:
- hari : Ahad ,19 Muharrom 1437 H / 01 November 2015 M.
- pukul : 09.00 WIB - Selesai.
- tempat : Mahad Ar-Risalah Jombang

Disiarkan secara langsung melalui Radio Ar-Risalah ( www.arrisalah.or.id )

Contact Person: Abu Abdirrohman Afrul (0856 4308 6942)


Share:

Selasa, 13 Oktober 2015

Jadwal Terbaru Kajian Rutin Salafy di Kota Jombang

JADWAL KAJIAN RUTIN
MA’HAD AR-RISALAH JOMBANG
Hari
Waktu
Kitab
Ustadz
Keterangan
SENIN
Ba’dal Maghrib – Isya’
Modul Do’a MTQ Ar-Risalah
Muhammad Irfan
Senin ganjil
Al-Manhajus Salafy
Senin genap
SELASA
20.00  selesai
Al-Muyassar fii ‘Ilmin Nahwi
Abu Ibrohim
Khusus ikhwan
KAMIS
16.45 – Maghrib
Al-Minzhor
Muhammad Irfan
Kamis ganjil
Silsilah wa Taujihat fii Tarbiyatil Aulad
Kamis genap
20.00  selesai
Modul Bahasa Arab MTQ Ar-Risalah
Muhammad Irfan
Khusus ikhwan
SABTU
16.45 – Maghrib
Adabul Mufrod
Muhammad Irfan
Khusus Akhowat
Fiqih Muyassar
Al-Hullatul Bahiyyah
Risalatut Tauhid
Akhtho’uz Zaujat
20.00  selesai
Al-Muyassar fii ‘Ilmin Nahwi
Abu Ibrohim
Khusus ikhwan
2 pekan sekali
CATATAN :
Ta’lim hari Sabtu, ummahat DILARANG membawa anak kecil ke tempat ta’lim 
(kecuali usia dibawah 2 tahun)
Jadwal bisa berubah sewaktu waktu.

Bagi yang berhalangan hadir bisa mendengarkan secara live di 
 Aplilksi Radio Rasyid dan RII di android anda
atau Via winamp dengan URL live.arrisalah.or.id:9222
Share:

Link Rekaman Audio Dauroh Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba'abduh hafizhahullah di Ma'had Ibnul Qoyyim Balikpapan

AUDIO DAURAH BALIKPAPAN

-------------------------------------------




πŸŒ…  tuk ISLAM Rahmatan Lil 'alamin BUKAN Islam Nusantara ~


πŸ’Ί Pemateri:
Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba'abduh hafizhahullah
(Pimpinan PonPes As-Salafy Jember Jatim)


πŸ“† Sabtu - Ahad, 26-27 Dzulhijjah 1436 H ll 10-11 Oktober 2015 ll

πŸ“Œ Masjid Zaadul Ma'aad ll Ma'had Ibnul Qoyyim ll Balikpapan - Kalimantan Timur

1⃣
Sesi 1
 Link https://goo.gl/mNQIOG

2⃣
Sesi 2
 Link https://goo.gl/j0IM6q

3⃣
Sesi 3  Link https://goo.gl/yvCiNr

4⃣
Sesi 4
 Link https://goo.gl/lSLKwA

5⃣
Sesi: 5
Link https://goo.gl/n2Y2L5

6⃣
Sesi: 6
Link https://goo.gl/39PhFT

7⃣
Sesi 7
 Link https://goo.gl/iuPng9

8⃣
Sesi 8 Tanya Jawab
 Link https://goo.gl/ZxJ8Kj






••••••••••••••••••••
πŸŒ πŸ“ Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~

Share:

Kalender Hijriyah

Utama

"BARU" LINK Audio Rekaman Dauroh Jombang bersama Ustadz Afifuddin Hafidzohulloh "Para Penyusup Dakwah Salafiyyah"

Dengan mengharap ridho ALLOH ta’ala semata, Hadir dan ikutilah Kajian Islam Ilmiah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dengan Tema : “ P...

Paling Banyak Diakses

Radio Ar-Risalah Jombang

Radio Islam Indonesia